Sayup sendu hembusan angin silih berganti menerpa ranting
pohon pelindung yang ada tepat dihalaman pekarangan sekolah tak lantas
membuyarkan cengkrama beberapa ekor burung kutilang yang bertengger berbusung
dada mengibas-ngibaskan sayapnya seraya membersihkan bulu dan sayap cantiknya, sayap yang nampak kilap diterpa
sinar jingga dari arah barat laut petang itu. Setelah ba'da ashar cuaca memang sudah tak begitu menyengat seperti disiang tadi, dikejauhan tampak beberapa siswa berdiskusi ringan sambil sesekali tertawa lepas sambil menunggu kedatangan teman-temannya yang lain. Nampaknya hari ini mereka akan melaksanakan latihan rutin salah satu kegiatan Ekstrakulikuler sekolah. Sembari medengadah keatas kulihat sangsaka merah putih masih berkibar melambai dihempas angin sepoi-sepoi dipuncak tiang besi beserta ikatan tali yang terikat dipuncaknya. segera kulangkahkan kaki kemudian kuturunkan ia, karna kutahu ia mungkin lelah sedari pagi dipuncak sana ditemari sinar mentari yang amat terik disiang tadi.
" Belum pulang pak ? " tiba-tiba terdengar suara dari balik tanaman pucuk merah yang berjejer rapi didepan gedung kantor sekolah. dengan ekspresi setengah terkejut akupun menoleh kearah belakang, sambil tersenyum tampak seorang siswa dengan pakaian pramuka rapi dibalut lilitan Kacu dikerah bajunya sambil berjongkok ia lantas membetulkan ikatan tali sepatunya yang kelihatan agak terbuka. "Belum nak, jawabku kepada siswa tersebut. kemudian kutanyakan beberapa pertanyaan terkait kegiatannya sore ini, setelah itu sembari memohon pamit, dengan berjalan santai ia langsung berlalu menuju sebuah pohon yang dibawahnya terdapat bangku yang terbuat dari ikatan bambu, disitu juga ada beberapa siswa yang duduk sambil membaca buku.
Sembari duduk diatas sebuah kursi kayu yang ada diteras kantor sekolah, kuterawang langit biru berselimut awan tebal yang mengantung bersamanya, tiba-tiba terlintas kenangan dua belas tahun lalu saat menjadi seorang siswa disalah satu sekolah didaerahku, teringat teman-teman seangkatan seperjuangan yang mungkin sekarang telah menjadi orang-orang hebat lagi sukses. Dari SMSG (silaturahmi media sosial grup) yang sering kami lakukan hampir setiap hari lewat alat komunikasi berupa Handphone yang menurutku telah mendekatkan orang-orang yang berjauhan dan menjauhkan orang-orang yang berdekatan banyak dari mereka yang kini telah sukses baik berwiraswasta,menjadi anggota POLRI, juga TNI, bahkan banyak pula dari mereka yang telah memilih profesi yang sama denganku, Ya mengabdikan diri menjadi seorang guru, cita-cita yang tak sama dengan impianku diwaku kecilku ...yah namun itulah hidup semua pasti ada Plus-Minusnya kendatipun tak bercita-cita sebagai seorang guru kini profesi ini telah kugeluti selama lima tahun berjalan, hingga timbul kesan "ala bisa karna biasa" profesi ini membuatku jatuh cinta berbalut rasa nyaman padanya, rasa cinta dan nyaman itu semakin menggebu saat profesi ini mengantarku menjadi salah satu ASN terhitung sejak April 2015 yang lalu tentunya ini adalah satu anugrah dari sang pencipta yang senantiasa harus ku syukuri.
Masih diatas kursi kayu diteras kantor sekolahku tiba-tiba melayang difikiranku akan zaman sewaktu sekolahku, Zaman itu lantas kubandingkan dengan kehidupan pendidikan saat ini yang menurutku tak serupa dengan masaku, zaman itu terasa bagai jarak antara Litosfere dan atmosfer, atau mungkin berjarak sejauh kutub utara keselatan yah jarak itu mungkin hanya opiniku. bagaimana tidak, dahulu mempunyai handphone atau Laptop bagi sebagian kalangan siswa sekolah masih merupakan yang yang tabu dan dianggap luar biasa, siswa yang memiliki alat komunikasi canggih itu pastilah akan dikerumuni oleh siswa yang lain bagai semut bertemu gula. namun sekarang tak lagi begitu, sebaliknya siswa yang masih belum memiliki alat-alat itu kini berbalik dianggap tabu, huuufg... sambil menghela nafas dalam batinku beradu memunculkan banyak tanya yang menggangu, apakah secepat ini masaku berlalu ?".
Jika dahulu ayah ibu kami bertanya kemana anakku?" tangkas kami menjawab "kerumah teman Pak meminjam buku !" ... " Kemana anakku..?" " Kerumah Guru Bu Menambah ilmu!" namun saat ini tak lagi begitu materi pembelajaran disekolah telah dapat diTransfer sekejap mata, sekali jempol bekerja tugas sekolah didepan mata, tentunya mudah itu bukan tanpa syarat, kini belajar bukan lagi hanya lewat kata tapi minimal harus berpaket data. Dahulu berjumpa guru rasa segan membelenggu, wajah menunduk bercampur ragu, ragu bukan tanpa sebab namun ragu karna kharisma seorang guru. timbul pertanyaan, lantas apakah sekarang tak ada siswa yang begitu ?'' jawabanya jelaslas ada, hanya caranya saja yang sedikit di Modifikasi sekarang saat siswa bertemu guru rasa hormat sudah berlalu, berganti lambaian tangan dengan kata Hello Pak....Hello Bu..." masih baik jika demikian, malah ada pula yang seperti tak lagi mengenal guru, guru hanya saat disekolah saja, diluar guru tinggal rakyat jelata semoga tak semua begitu. Masa itu saat-saat tertentu televisi tak begitu laku, karna ketika waktu magrib berlalu tinggalah televisi disitu, remot hilang bagai angin menyapu debu. saking besarnya perhatian orang tua saat itu, iya lewatkan jejeran judul telenovela-telenovela asal Negara Meksiko yang top saat itu , yang jika ditanya apa sebabnya ?", sebab utamanya hanya satu agar anak-anaknya dapat belajar disaat itu dengan harapan untuk kemajuan dan cerdasnya anaknya dihari kelak. namun berbanding terbalik dengan masakini saat waktu magrib berlalu, suara gaduh kian menderu saat mengecek didaun pintu tetangga sebelah menonton tinju adapula yang memutar lagu.
Jika telah demikian pada siapa lantas mengadu...apakah harus kita ikuti salah satu lirik lagu dengan anjuran "...coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..?" kiranya tak bijak jika hanya melempar keliru, karna sejatinya komponen yang memiliki peran penting dalam pendidikan anak mencakup tiga pilar penting Guru,Orang Tua dan Siswa itu sendiri jika ketiga komponen itu mampu bersinergi dengan padu niscaya sederas apapun perubahan zaman kedepanya radiasi negatifnya dapat kita tangkal sedini mungkin. tentunya usaha Guru,Orang tua dan Siswa harus senantiasa dibarengi dengan Ahlak dan iman yang padu itulah kunci utama berhasilnya sesuatu.
Tak usah panjang apalagi melebar karna hayalan jika engan merealisasikan biasanya tinggal hanya sebatas angan. Tak berselang lama samar terdengar suara kumandang ayat al-Quran dengan langgam Arab khas dari arah selatan lantas membuyarkanku dari lamunan akan kenaggan dizamanku, jika telah demikian artinya tak lama lagi waktu magrib tinggal ditunggu. namun satu hal yang harus senantiasa dijunjung bahwa, apapun itu zaman dulu sudahlah berlalu mengenangnya haruslah dijadikan sebagai pembanding untuk kemajuan yang lebih baik kedepanya bukan malah berfikir pesimis sembari meringgis lantas ingin kembali kezaman itu....karna sehebat apapun kamu, kamu bukanlah pencipta Lorang waktu... " (M.A)
" Belum pulang pak ? " tiba-tiba terdengar suara dari balik tanaman pucuk merah yang berjejer rapi didepan gedung kantor sekolah. dengan ekspresi setengah terkejut akupun menoleh kearah belakang, sambil tersenyum tampak seorang siswa dengan pakaian pramuka rapi dibalut lilitan Kacu dikerah bajunya sambil berjongkok ia lantas membetulkan ikatan tali sepatunya yang kelihatan agak terbuka. "Belum nak, jawabku kepada siswa tersebut. kemudian kutanyakan beberapa pertanyaan terkait kegiatannya sore ini, setelah itu sembari memohon pamit, dengan berjalan santai ia langsung berlalu menuju sebuah pohon yang dibawahnya terdapat bangku yang terbuat dari ikatan bambu, disitu juga ada beberapa siswa yang duduk sambil membaca buku.
Sembari duduk diatas sebuah kursi kayu yang ada diteras kantor sekolah, kuterawang langit biru berselimut awan tebal yang mengantung bersamanya, tiba-tiba terlintas kenangan dua belas tahun lalu saat menjadi seorang siswa disalah satu sekolah didaerahku, teringat teman-teman seangkatan seperjuangan yang mungkin sekarang telah menjadi orang-orang hebat lagi sukses. Dari SMSG (silaturahmi media sosial grup) yang sering kami lakukan hampir setiap hari lewat alat komunikasi berupa Handphone yang menurutku telah mendekatkan orang-orang yang berjauhan dan menjauhkan orang-orang yang berdekatan banyak dari mereka yang kini telah sukses baik berwiraswasta,menjadi anggota POLRI, juga TNI, bahkan banyak pula dari mereka yang telah memilih profesi yang sama denganku, Ya mengabdikan diri menjadi seorang guru, cita-cita yang tak sama dengan impianku diwaku kecilku ...yah namun itulah hidup semua pasti ada Plus-Minusnya kendatipun tak bercita-cita sebagai seorang guru kini profesi ini telah kugeluti selama lima tahun berjalan, hingga timbul kesan "ala bisa karna biasa" profesi ini membuatku jatuh cinta berbalut rasa nyaman padanya, rasa cinta dan nyaman itu semakin menggebu saat profesi ini mengantarku menjadi salah satu ASN terhitung sejak April 2015 yang lalu tentunya ini adalah satu anugrah dari sang pencipta yang senantiasa harus ku syukuri.
Masih diatas kursi kayu diteras kantor sekolahku tiba-tiba melayang difikiranku akan zaman sewaktu sekolahku, Zaman itu lantas kubandingkan dengan kehidupan pendidikan saat ini yang menurutku tak serupa dengan masaku, zaman itu terasa bagai jarak antara Litosfere dan atmosfer, atau mungkin berjarak sejauh kutub utara keselatan yah jarak itu mungkin hanya opiniku. bagaimana tidak, dahulu mempunyai handphone atau Laptop bagi sebagian kalangan siswa sekolah masih merupakan yang yang tabu dan dianggap luar biasa, siswa yang memiliki alat komunikasi canggih itu pastilah akan dikerumuni oleh siswa yang lain bagai semut bertemu gula. namun sekarang tak lagi begitu, sebaliknya siswa yang masih belum memiliki alat-alat itu kini berbalik dianggap tabu, huuufg... sambil menghela nafas dalam batinku beradu memunculkan banyak tanya yang menggangu, apakah secepat ini masaku berlalu ?".
Jika dahulu ayah ibu kami bertanya kemana anakku?" tangkas kami menjawab "kerumah teman Pak meminjam buku !" ... " Kemana anakku..?" " Kerumah Guru Bu Menambah ilmu!" namun saat ini tak lagi begitu materi pembelajaran disekolah telah dapat diTransfer sekejap mata, sekali jempol bekerja tugas sekolah didepan mata, tentunya mudah itu bukan tanpa syarat, kini belajar bukan lagi hanya lewat kata tapi minimal harus berpaket data. Dahulu berjumpa guru rasa segan membelenggu, wajah menunduk bercampur ragu, ragu bukan tanpa sebab namun ragu karna kharisma seorang guru. timbul pertanyaan, lantas apakah sekarang tak ada siswa yang begitu ?'' jawabanya jelaslas ada, hanya caranya saja yang sedikit di Modifikasi sekarang saat siswa bertemu guru rasa hormat sudah berlalu, berganti lambaian tangan dengan kata Hello Pak....Hello Bu..." masih baik jika demikian, malah ada pula yang seperti tak lagi mengenal guru, guru hanya saat disekolah saja, diluar guru tinggal rakyat jelata semoga tak semua begitu. Masa itu saat-saat tertentu televisi tak begitu laku, karna ketika waktu magrib berlalu tinggalah televisi disitu, remot hilang bagai angin menyapu debu. saking besarnya perhatian orang tua saat itu, iya lewatkan jejeran judul telenovela-telenovela asal Negara Meksiko yang top saat itu , yang jika ditanya apa sebabnya ?", sebab utamanya hanya satu agar anak-anaknya dapat belajar disaat itu dengan harapan untuk kemajuan dan cerdasnya anaknya dihari kelak. namun berbanding terbalik dengan masakini saat waktu magrib berlalu, suara gaduh kian menderu saat mengecek didaun pintu tetangga sebelah menonton tinju adapula yang memutar lagu.
Jika telah demikian pada siapa lantas mengadu...apakah harus kita ikuti salah satu lirik lagu dengan anjuran "...coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..?" kiranya tak bijak jika hanya melempar keliru, karna sejatinya komponen yang memiliki peran penting dalam pendidikan anak mencakup tiga pilar penting Guru,Orang Tua dan Siswa itu sendiri jika ketiga komponen itu mampu bersinergi dengan padu niscaya sederas apapun perubahan zaman kedepanya radiasi negatifnya dapat kita tangkal sedini mungkin. tentunya usaha Guru,Orang tua dan Siswa harus senantiasa dibarengi dengan Ahlak dan iman yang padu itulah kunci utama berhasilnya sesuatu.
Tak usah panjang apalagi melebar karna hayalan jika engan merealisasikan biasanya tinggal hanya sebatas angan. Tak berselang lama samar terdengar suara kumandang ayat al-Quran dengan langgam Arab khas dari arah selatan lantas membuyarkanku dari lamunan akan kenaggan dizamanku, jika telah demikian artinya tak lama lagi waktu magrib tinggal ditunggu. namun satu hal yang harus senantiasa dijunjung bahwa, apapun itu zaman dulu sudahlah berlalu mengenangnya haruslah dijadikan sebagai pembanding untuk kemajuan yang lebih baik kedepanya bukan malah berfikir pesimis sembari meringgis lantas ingin kembali kezaman itu....karna sehebat apapun kamu, kamu bukanlah pencipta Lorang waktu... " (M.A)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar